Tuesday, April 17, 2018

Minat Baca Warga Indonesia yang Rendah



Tiba-tiba malam ini saya teringat pada sebuah permasalahan yang sebenarnya sudah lama mengganggu pikiran saya. Permasalahan yang saya maksudkan ialah perihal minat baca saudara setanah air saya, bangsa Indonesia.

Langsung saja jemari ini mengetikkan beberapa keyword di sebuah mesin cari favorit berawalan G yang berlogo enam huruf dengan warna pelangi: “minat baca indonesia”.

Boom! Sebuah artikel dari kompas tampil di halaman pertama, isinya mengejutkan bagi saya. Berdasarkan studi “Most Littered Nation in the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia menempati peringkat ke-60 dari 61 negara perihal minat membaca. Hanya Bostwana-lah satu-satunya negara yang posisinya dibawah Indonesia dalam daftar tersebut! Gokil.

Bukanlah suatu hal yang mengejutkan saya jika sebuah studi membuktikan bahwa minat baca warga Indonesia terbilang rendah, hanya saja, saya tidak menyangka jika ternyata sampai serendah ini. Memang studi tersebut tidak lagi anyar, dua tahun sudah berlalu, tapi saya yakin dalam rentang waktu sesingkat itu hasil studi terbaru pun hasilnya tak akan jauh beda.

Miris, memprihatinkan.

Saya tertegun, mencoba merenungi diri sendiri terlebih dahulu. Faktanya, saya juga termasuk orang Indonesia yang tidak terlalu rajin membaca. Sibuknya dunia kerja, lelahnya fisik dan pikiran setelah seharian beraktivitas senantiasa menjadi kambing hitam. Mungkin Hidayat Syah muda jauh lebih banyak bacaannya daripada Hidayat Syah yang sekarang.

Bicara tentang bacaannya seorang Hidayat Syah, berarti bicara tentang bacaan-bacaan di internet (mostly). Saya terjun ke dunia internet di era friendster masih berjaya, saat itu bisnis warnet baru mulai kelihatan batang hidungnya di kota Padang. Warnet yang saya kunjungi rata-rata dipenuhi bocah-bocah sekolahan yang datang untuk bermain Counter Strike dan chatting via mIRC.

Internet langsung menarik perhatian saya di kala itu, karena segalanya bisa dicari dengan mudah. Tinggal ketik dan pencet enter di mesin pencari. Biasanya, pasti sudah ada yang pernah membahas topik yang dicari tersebut.

Bayangkan, kita tidak perlu lagi ke perpustakaan, tidak perlu lagi bersusah payah menelusuri katalog untuk menemukan buku yang kita butuhkan demi menggali pemahaman tentang sebuah materi, tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membeli buku yang mungkin hanya akan sekali kita baca dan lalu terlupakan. Internet sungguh berjasa bagi saya, baik dulu maupun sekarang.

Memang, internet tidak akan pernah berhasil menggantikan buku. Tidak akan.

Sampai saat inipun saya tetap saja harus mengalokasikan sebagian pendapatan untuk membeli buku-buku tertentu. Internet itu terlalu luas, terlalu banyak sumber dan sayangnya tidak semuanya kredibel. Luasnya internet tersebut juga dapat membuat kita ‘tersesat’, lupa arah dan tujuan, tanpa sadar melenceng dari topik awal yang sedang kita coba untuk pahami. Setuju? Atau mungkin saya aja yang ngga fokus ya?

Terlepas dari segala kekurangan internet diatas, tetap saja, kehadiran internet seharusnya mendongkrak minat baca umat manusia. Teknologi pada dasarnya mempermudah segala aspek kehidupan, termasuk dalam hal memperluas wawasan.

Jadi, mengingat bahwa Indonesia bukanlah negara terbelakang yang belum mengenal internet, rasanya sangat memprihatinkan jika faktanya minat baca warga Indonesia masih  sangat rendah.

Indikator yang digunakan dalam studi tersebut memang tidak terlalu mempertimbangkan internet sebagai bahan bacaan. Maka dari itu lagi-lagi saya harus mengakui bahwa saya pun pasti termasuk dalam kategori warga Indonesia dengan minat baca rendah. Buku-buku yang saya baca masih tergolong sedikit, perpustakaan mini saya pun didominasi oleh novel dan komik. Buku-buku berfaedah ada sih, tapi tidak banyak. Wawasan saya kebanyakan datang via internet.

Mari kita stop dulu bicara tentang studi-studian, dan beranjak sedikit pada kegundahan sejenis yang ingin saya paparkan. Ini pemikiran saya, tanpa riset, tanpa metodologi yang reliable, hanya opini. Jadi, jika salah; maafkanlah.

Sebagai salah satu penggiat blog kopas bernama sayakasihtahu.com sejak tahun 2009, sedikit banyaknya saya dapat ‘merasakan’ konten seperti apa yang diminati oleh netizen dan sebaliknya konten seperti apa yang hambar-hambar saja bagi netizen.

Ada konten yang begitu dipublikasikan langsung mendapat banyak views, banyak komentar, banyak dibagikan oleh pembaca ke media sosial mereka pribadi, dan ada juga konten yang tidak laku, sedikit visitornya, tidak ada yang komen, apalagi dishare ke medsos.

Sedihnya, seringkali konten yang laris manis dibaca ribuan hingga jutaan visitor adalah konten-konten yang sensasional, berita-berita tentang selebritis, gosip, hoax, bukan konten-konten yang mencerdaskan.

Jika dilihat dari sisi blogger/ writer sebagai pebisnis, tentu saja menciptakan konten yang dicintai khalayak ramai akan lebih menguntungkan daripada menciptakan konten berkualitas yang peminatnya hanya segelintir orang saja. Hal inilah yang menyebabkan satu persatu blog yang pada awalnya menyajikan informasi-informasi berfaedah beralih fungsi menjadi blog-blog gosip dan sejenisnya. Mereka juga butuh uang tho?

Come on! Sampai kapan Indonesia akan jadi negara seperti ini. Minat baca rendah, sekalinya baca malah konten sampah.

Alih-alih menyalahkan salah satu pihak baik pembaca maupun pihak penyedia konten, mari terlebih dahulu kita mengintrospeksi diri sendiri, sudahkah kita menggunakan internet dengan bijak? Ataukah, malah kita termasuk dalam golongan orang-orang yang tanpa sadar mendukung lahirnya konten-konten sampah di dunia maya?

Read More