Monday, October 30, 2017

Jenis-jenis Perjanjian Dalam Underwriting



Penjaminan emisi efek selalu dihadapkan pada risiko. Oleh Karena itu, penjamin emisi benar-benar harus mempelajari dan meneliti seakurat mungkin mengenai keadaan atau kinerja emiten dan memproyeksi kemapuan dan minat calon investor terhadap saham atau efek lain yang akan dijamin emisinya.

Risiko maksimum yang akan dihadapi oleh underwriter adalah kemungkinan tidak lakunya efek yang diemisi. Apabila hal tersebut terjadi, maka underwriter yang bertanggung jawab dan mengambil alih seluruh efek yang tidak terjual tersebut.

Dalam praktiknya harga perdana efek akan sangat berpengaruh pada minat investor untuk membeli suatu saham.

Dilihat dari kepentingan emiten, makin tinggi harga suatu saham di pasar perdana makin memperbesar kemampuan permodalan dan makin menguntungkan bagi emiten yang bersangkutan. Sebaliknya, dari sisi underwriter makin tinggi harga perdana suatu saham, maka besar pula risiko kerugian yang mungkin timbul.

Dalam mekanisme penjaminan emisi ini dipertemukan kepentingan masing-masing pihak, baik underwriter dan emiten, biasanya dengan melalui negosiasi yang cukup panjang dan alot.

Dalam kegiatan underwriting, dikenal beberapa jenis dan cara penjaminan emisi sebagai berikut:

Kesanggupan penuh (full commitment underwriting)

Full commitment atau sering juga disebut firm commitment underwriting adalah suatu perjanjian penjamin emisi efek dimana penjamin emisi mengikatkan diri untuk menawarkan efek kepada masyarakat dan membeli sisa efek yang tidak laku terjual.

Dari pengertian tersebut berlaku ketentuan bahwa underwriter berusaha menjual di pasar perdana kemudian membeli efek yang ternyata tidak laku dijual dengan harga yang sama dengan harga penawaran pada pasar perdana. Ketentuan ini berlaku pada penjamin emisi di pasar modal Indonesia. Sedangkan full commitment di Amerika Serikat memiliki persepsi yang berbeda yaitu underwriter membeli seluruh sahamemisi kemudian menjual kembali kepada investor dengan harga yang tentunya lebih tinggi.

Kesanggupan terbaik (best efforts commitments)

Dalam komitmen ini, underwriter akan berusaha semaksimal mungkin menjual efek-efek emiten. Apabila ada efek yang belum habis terjual underwriter tidak wajib membelinya dan oleh karena itu mereka hanya membayar semua efek yang berhasil terjual dan mengembalikan sisanya kepada emiten.

Kesanggupan siaga (stand by commitment)

Penjamin emisi menurut komitmen ini adalah underwriter berusaha menawarkan efek semaksimalnya kepada investor. Kemudian apabila ada sisa yang belum terjual sampai batas waktu penawaran yang telah ditetapkan, underwriter menyanggupi membeli sisa efek tersebut dengan harga tertentu sesuai dengan perjanjian yang besarnya di bawah harga penawaran pada pasar perdana

Kesanggupan semua atau tidak sama sekali (all or none commitment)

Komitmen ini menyatakan bahwa apabila efek yang ditawarkan tersebut ternyata sebagian tidak terjual, maka penjualan efek tersebut dibatalkan sama sekali. Artinya bagian efek yang telah laku dipesan oleh investor akan dibatalkan penjualannya dan semua sisa efek dikembalikan kepada emiten.

Selanjutnya, dalam konteks ini dikenal istilah komitmen minimum atau maksimum. Komitmen ini mengatur apabila penjualan efek telah mencapai batas minimum penjualan yang yang ditentukan misalnya, maka underwriter dapat merumuskan penawaran sampai batas maksimum penjualan. Akan tetapi apabila sampai batas waktu tertentu, efek yang terjual belum memenuhi ketentuan jumlah minimum maka penjualan efek dibatalkan.

Nah itu dia beberapa perjanjian dalam penjaminan emisi efek yang lagi-lagi saya kopas dari edukasisaham.co.id, silakan kunjungi langsung websitenya karena banyak lagi pengetahuan-pengetahauan saham menarik yang diulas secara tuntas disana.
Read More

Apa itu Penjamin Emisi Efek atau Underwriter?


Secara garis besar, underwriter dapat diartikan sebagai pihak yang menjamin penjualan saham pada saat penawaran saham perdana (IPO). Jika dijabarkan terdapat tiga jenis penjamin emisi efek yaitu:

1. Penjamin Utama Emisi (Lead Underwriter) 

Lead underwriter dengan emiten membuat suatu perikatan dalam suatu perjanjian penjaminan emisi efek. Dalam perjanjian tersebut penjamin emisi menjamin menjual efek dan pembayaran seluruh nilai efek.

Apabila dalam suatu emisi terdapat lebih dari satu penjamin emisi utama, maka penjaminan dilakukan secara bersama. Tugas pokok Penjamin Utama Emisi adalah sebagai berikut:
  • menjamin penjualan emisi efek dan pembayaran keseluruhan nilai efek yang diemisikan kepada emiten.
  • mewakili para penjamin emisi efek dalam hubungannya dengan emiten dan pihak ketiga.
  • menetapkan bagian kewajiban masing-masing bagian emisi efek ssesuai dengan ketentuan yang telah disepakati dalam perjanjian antara penjamin emisi.
  • mengumpulkan semua hasil penjualan efek yang dilakukan oleh para penjamin peserta emisi dan para agen penjual pada tanggal setelah masa penutupan penawaran umum.
  • menyerahkan hasil penjualan efek kepada emiten serta membayar efek yang tidak habis terjual tepat pada tanggal yang disepakati. 

 

 2. Penjamin Pelaksana Emisi (managing underwriter)

Seperti yang telah disebutkan diatas, dalam suatu emisi bisa saja terdapat lebih dari satu lead underwriter. Apabila hal tersebut terjadi, maka di antara mereka harus dipilih satu atau lebih yang akan bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi atau managing underwriter.

Penjamin pelaksana emisi dalam suatu proses emisi memiliki tugas sebagi berikut:
  • mengatur pengelolaan serta penyelenggaraan emisi efek.
  • mengoordinasikan seluruh penjamin emisi dalam hal pelaksanaan penjamin efek, serta kegiatan-kegiatan lainnya sesuai dengan kewajiban para penjamin emisi efek.

3. Penjamin Peserta Emisi (Co-Underwriter)

Fungsi co-underwriter ini adalah ikut menjamin penjualan dan pembayaran nilai efek sesuai dengan porsi efek yang diberikan kepadanya yang diikat dengan suatu perjanjian penjaminan emisi. Dalam pelaksanaan suatu emisi co-underwriter tidak bertanggung jawab langsung kepada emiten, tetapi kepada lead underwriter.

Kerjasama antara penjamin emisi efek yaitu sebagai lead, managing, dan co-underwriter diwujudkan dalam suatu perjanjian antar mereka yang disebut dengan Perjanjian Antar Penjamin Emisi.

Selanjutnya, penjamin emisi efek setelah memisahkan jumlah porsi yang akan langsung ditawarkan sendiri kepada investor, dapat juga mempergunakan jasa perusahaan-perusahaan broker atau perusahaan efek sebagai agen penjual (selling agent) untuk melaksanakan penjualan efek yang sebenarnya merupakan bagian underwriter yang bersangkutan. Ikatan kerja sama antara penjamin emisi dengan agen penjual tersebut dialakukan atas dasar suatu perjanjian yang disebut Perjanjian Agen Penjual.

Jasa underwriter dalam melaksanakan fungsi penjaminan emisi

Underwriter memperoleh pembayaran dari emiten yang disebut jasa penjaminan emisi atau underwriting fee. Besarnya fee biasanya ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara emiten dengan underwriter yang dinyatakan dalam suatu presentase. Jumlah fee tersebut dihitung dari nilai penawaran pada pasar perdana.

Jasa-jasa penjamin emisi tersebut tediri atas:
  1. Management fee. Pada dasaranya management fee ini dibayarkan kepada penjamin pelaksana emisi (managing underwriter).
  2. Underwriting fee, yaitu pembayaran fee kepada semua penjamin emisi secara proporsional artinya besar-kecilnya fee yang dibayarkan tergantung dari besarnya bagian efek yang dijamin oleh masing-masing underwriter.
  3. Selling fee, yaitu pembayaran fee kepada agen penjual yang ditunjuk (broker atau persahaan-perusahaan efek) berdasarkan perjanjian agen penjual yang besarnya dengan jumlah efek yang terjual.
Nah itu dia beberapa hal tentang penjamin efek emisi yang saya kopas dari edukasisaham.co.id . Sengaja saya salin ulang supaya ngga lupa, biar jadi catetan deh di blog saya tercinta ini. Untuk membahas jenis perjanjian emisi lebih lengkap silakan baca artikel ini: Jenis Perjanjian Emisi
Read More

Friday, October 27, 2017

Catatan Hidup #4 Seleksi ODP Mega Finance

Artikel ini saya tulis untuk para job seeker yang mungkin belum punya informasi mengenai tahapan-tahapan seleksi untuk meraih posisi ODP Mega Finance. Kisah yang akan saya paparkan dibawah ini adalah pengalaman saya sendiri sebagai peserta seleksi, jadi ada baiknya kalau teman-teman juga melakukan cross-check supaya informasi yang diperoleh lebih bervariasi dan akurat. Hehehe. Semoga bisa membantu ya!



By the way, saya mengikuti rangkaian seleksi Officer Development Program PT Mega Finance melalui campus hiring Universitas Andalas. Mungkin ada beberapa perbedaan dengan campus hiring universitas lain, tapi secara garis besar alur yang saya lewati adalah sebagai berikut ini:

Walk in Interview

Seleksi pertama yang diadakan berupa Walk in interview dimana sekitar delapan kandidat maju secara bersamaan untuk diwawancarai. Delapan? Ya benar sekali, ada yang lebih malah. Saya tidak tau apakah hal ini juga terjadi di campus hiring universitas lain atau tidak, namun itulah kenyataan yang terjadi pada campus hiring Universitas Andalas.

Relax saja, dalam interview awal ini kamu hanya akan ditanyai beberapa hal mendasar tentang diri kamu, latar belakang edukasi, dan pengalaman organisasi yang kamu miliki. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan khusus yang menjurus.

Focus Group Discussion

Tahap seleksi berikutnya adalah Focus Group Discussion atau FGD. Para kandidat yang dinyatakan memenuhi syarat dalam tahap sebelumnya dibentuk menjadi beberapa grup yang akan berdiskusi membahas beberapa isu yang terjadi di sebuah perusahaan.

Jujur saja, baru setelah masuk ke dalam ruang lingkup perusahaan saya baru menyadari bahwa isu-isu yang kami bahas dalam FGD tersebut ternyata adalah permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam perusahaan itu sendiri, seperti: masalah kedisiplinan, turnover yang tinggi, dan sebagainya.

Saya tidak terlalu mendominasi dalam FGD ini, bicara seperlunya saja supaya ngga terlihat apatis atau ngantuk. Sebagian kandidat ada yang menggebu-gebu sekali semangat juangnya, saling berbantah-bantahan, saling beradu argumen, tapi saya memilih untuk tidak ikut-ikutan. Secukupnya saja. Sepertinya ini trik yang lebih ampuh untuk digunakan, mengingat banyak kandidat yang berngotot-ria tersebut malah pada tersingkir. Sepertinya ya. Sepertinya.


Seharusnya sih psikotes dulu

Tahap selanjutnya ketika saya dinyatakan lulus FGD adalah wawancara. Nah, ada sedikit anomali disini. Menurut alur yang telah dipublikasikan oleh perusahaan, seharusnya setelah FGD akan dilaksanakan psikotes terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap wawancara. Itulah keanehan yang terjadi pada seleksi ODP Mega Finane di Universitas saya. Apa yang menjadi penyebab kejanggalan tersebut saya sendiri tidak tahu.

Yah, jadi intinya saya tidak bisa share pengalaman mengikuti psikotes Mega Finance karena kejadian tersebut.

Diwawancarai oleh salah seorang petinggi Mega Finance

Wawancara dilakukan dengan format presentasi. Para kandidat yang bertahan akan diberikan sebuah slide sederhana yang tiap halamannya harus diisi untuk menjelaskan beberapa hal tentang diri si kandidat tersebut seperti: riwayat pendidikan, riwayat organisasi, dan prestasi yang pernah diraih. Slide inilah yang akan menjadi alat bantu para peserta seleksi untuk mempresentasikan dirinya.

Saat itu saya diwawancarai oleh Pak Rudi, salah seorang Regional Manager di PT Mega Finance yang di kemudian hari menjadi salah satu sosok yang saya kagumi. Semoga saya juga bisa menjadi sehebat beliau nantinya. Amin.

Jika semua tahap mulai dari walk in interview, FGD, psikotes (jika ada), dan wawancara telah berhasil ditaklukkan maka tahap berikutnya sebagai penutup seleksi ODP Mega Finance adalah medical check-up.

Medical Checkup

Medical check-up yang dilakukan cukup lengkap, mulai dari rontgen paru-paru, cek darah, buta warna, dan lainnya. Setahu saya sih tidak ada yang digagalkan dalam tahapan ini. Saya sendiri adalah seorang penderita buta warna parsial yang terbukti gagal dalam pelaksanaan tes buta warna, tapi tetap dianggap memenuhi syarat sebagai karyawan Mega Finance. Tes ini dilaksanakan di salah satu lab ternama di Kota Padang yang berlokasi di Jl Ahmad Yani.

Sepertinya tes ini dilaksanakan hanya untuk memastikan bahwa para kandidat terpilih bukanlah pengguna narkotika dan obat terlarang lainnya. Kurang sehat dikit sih ga masalah.

Begitulah pengalaman saya mengikuti rangkaian seleksi yang cukup singkat dari perusahaan pembiayaan besutan Chairul Tanjung ini. Tahapan pertama yaitu walk in interview dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2016 dan tahapan terakhir (medcheck) dilaksanakan pada tanggal 13 Juni 2016.
Read More

Apa itu Deep Web?

Di era yang kita huni saat ini, internet bukan lagi menjadi barang yang asing. Dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, sandang-pangan-papan disebut-sebut sebagai kebutuhan pokok manusia. Sekarang sepertinya udah nambah satu nih; INTERNET!

Pergeseran pola hidup masyarakat modern pun sudah terlihat jelas. Lihat saja, sebagian orang yang dulunya berbelanja ke pasar saat ini mulai meninggalkan kebiasaan lama tersebut dan beralih ke jual-beli online yang lebih praktis. Hmm, banyak lagi contoh pergeseran pola hidup yang ditimbulkan oleh internet yang rasanya akan menghabiskan waktu jika kita bahas satu persatu.



Kemajuan teknologi yang memanjakan umat manusia ini sayangnya tidak hanya membawa dampak positif. Selalu saja ada sebagian oknum yang berusaha memanfaatkan kemudahan yang ditawarkan teknologi untuk menjalankan kegiatan-kegiatan yang menyimpang.

Nah, salah satu tempat paling laris manis untuk melakukan praktek nyeleneh tersebut adalah dark web, bagian dari deep web yang sebaiknya dijauhi aja deh kalau ga paham.

Apa itu deep web?

Sebagian orang menyebutnya deepnet, undernet, invisible web, atau hidden web. Intinya sama aja sih, yaitu bagian dari internet yang tidak kasat mata alias tersembunyi. Website-website mainstream yang sering kamu buka seperti facebook, twitter, gmail, adalah website-website yang terletak di ‘permukaan’ internet. Mereka bisa dengan mudah dicari di mesin pencari seperti google, bing, dan sejenisnya. Jauh dibawah ‘permukaan’ tersebut terdapat ribuan halaman yang tidak bisa ditemukan oleh sang mesin pencari sehebat mbah google sekalipun.

Lantas, apakah sebenarnya deep web itu berbahaya untuk dikunjungi?

Jawabannya: ngga juga sih. Tanpa kita sadari sebenarnya kita sudah sangat sering mengunjungi deep web. Balik lagi ke paragraf diatas, pengertian sederhana dari deep web adalah bagian internet yang tidak muncul di permukaan alias tidak dapat dijangkau oleh mesin pencari. Jadi, pada saat sedang mengakses internet banking pun dapat dikatakan bahwa kita sedang mengakses deep web. Ga mungkin dong data-data bersifat privacy diumbar oleh pihak bank yang kita percayai. Semuanya bersemayam dan berseliweran dalam jaringan yang aman dan tersembunyi.

Itu baru satu contoh lho, banyak lagi contoh penggunaan deep web yang tidak kita sadari telah kita operasikan dalam kehidupan sehari-hari. Statistik menunjukkan bahwa 96% data di dunia digital berada pada bagian yang 'dalam' ini, dan hanya 4% lah yang berada pada wilayah publik.

Nah lho? Jadi yang digembar-gemborkan media belakangan ini apa dong? Katanya bahaya?

Miskonsepsi tentang deep web dan dark web.

Salah satu perkara yang membuat nama deep web jadi booming tentu saja berita-berita tentang adanya praktek ilegal seperti jual beli organ tubuh, narkotika, jasa pembunuh bayaran dan sejenisnya yang diciduk sekitaran tahun 2013 oleh aparat berwenang.

Nah mari kita luruskan. Tindakan-tindakan berbau kriminal yang kita bahas barusan lebih tepatnya terjadi pada dark web. Faktanya, tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa dark web merupakan bagian di dalam deep web. Namun, sejatinya ada perbedaan mendasar antara dark web dengan deep web.

Dark web dapat diakses melalui dark net, sebuah layanan tersembunyi yang pada dasarnya berisi sekumulan website yang hanya dapat diakses dengan menggunakan sebuah browser khusus. Ga bakal bisa deh kalau kamu coba surfing kesana menggunakan mozilla firefox atau opera. Alamat web untuk layanan-layanan tersembunyi tersebut biasanya berekstensi .onion.

Salah satu browser paling terkenal untuk mengakses dark net adalah The Onion Router atau yang biasa disebut TOR. TOR ini dapat mengenkripsi data yang akan dikirim dan sebelum sampai ke tujuan data tersebut dioper terlebih dahulu ke nodes nodes sehingga sifat anonimitasnya terjaga. Nama onion dipakai karena teknologi ini menggunakan sistem enkripsi yang berlapis-lapis bak bawang (onion).

Nah itu dia sebagian kecil dari pengetahuan tentang deep web. Jika ditelaah lebih lanjut, menurut saya konsep yang dijunjung tinggi oleh deep web ngga ada yang salah kok. Deep web hanya menginginkan privacy yang terlindungi sehingga sistem transfer data diusahakan agar dapat bersifat anonim. Tidak terlacak. Namun hal ini dimanfaatkan oleh manusia-manusia ‘berotak bisnis’ untuk menjalankan kegiatan-kegiatan yang akan berbahaya jika dilakukan di jaringan biasa. Huehuehue.

Akhir kata, bijaklah menggunakan internet!

Read More

Wednesday, July 5, 2017

Catatan hidup #3 Ini Cerita di Awal Kehidupan Kita



Wuhuuu...

Mari kita mulai dari sisi positifnya dulu. Kurang dari satu tahun berkarir, saat ini posisi pimpinan cabang sudah di tangan. Lumayan express bukan? Mari sejenak kita bersimpuh menyukuri nasib baik yang mungkin tidak semua orang bisa memilikinya. Ada rasa bangga, dan ada juga rasa tertantang.
Tapi...

Terselip rasa takut dibalik kebanggaan dan kebahagiaan itu. Bagaimanapun juga, menjadi pimpinan di usia yang masih terbilang muda tentu saja tidak semudah yang kita bayangkan. Kondisi emosional yang masih belum stabil menjadi salah satu hambatan terbesar.

Kadang, timbul keraguan dalam hati nurani. Muncul pertanyaan pada diri sendiri; apakah kejadian seperti ini yang disebut orang dengan istilah karbitan?

Seperti yang telah saya ulas di awal artikel ini, karir saya di Mega Finance bahkan belum genap mencapai satu tahun. Masuk kerja pada akhir Juli 2016, dan ditugaskan sebagai kakios pada awal Juni 2017.

Sebagai lulusan ODP di perusahaan ini, kami memang digarap untuk melangkah cepat. Pendidikan kami dirancang untuk selesai dalam 3 Minggu in class training, ditambah 7-12 bulan on the job training. Saya termasuk salah satu yang apes, karena harus menyelesaikan pendidikan dalam waktu yang lebih lama jika dibandingkan teman-teman seperjuangan. However, tetep masih terlalu singkat rasanya untuk menguasai segala macam hal terkait operasional perusahan dalam periode

Sekitar 2-3 orang dalam setiap angkatan biasanya berhasil merebut posisi kepala cabang (kios, istilah perusahaan untuk cabang yang masih kecil-red) dan setingkatnya. Sialnya, terkadang juga terdapat sekitar 1-2 orang lainnya yang dinyatakan gagal sehingga tidak bisa melanjutkan karirnya di perusahaan ini. Intinya ya ga boleh main-main juga selama masa pendidikan, meskipun status kita masih trainee, masih belajar.


Memimpin

Kepemimpinan. Salah satu kata yang sangat familiar dikumandangkan di berbagai seminar motivasi. Mudah diucapkan, tapi sulit dimaknai. Bagaimana sih cara yang tepat untuk memimpin sekelompok manusia dengan pola pikir yang beragam?

Memimpin segelintir remaja memang bukanlah hal yang baru bagi saya. Dulu di kampus, saya pernah memimpin beberapa acara, kepanitiaan dan organisasi penting. Ya, lumayanlah buat latihan mengasah kemampuan interpersonal. Namun tetap saja, diberi kesempatan memimpin dalam 'dunia yang sebenernya' cukup membuat saya deg deg serrr. Terlebih lagi, kali ini orang-orang yang saya pimpin bisa saja memiliki usia dan pengalaman yang jauh melebihi saya sendiri. Meeeeh!

Di titik ini saya mulai merasakan gregetnya kehidupan. Mulai ada masalah, mulai ada konflik. Memang, konflik bukanlah kejadian yang langka dalam kehidupan manusia, bahkan sejak remaja mungkin kita sudah dihadapkan dengan konflik. Tapi ya... yang sekarang ini lebih serius dikit gitu. Bukan lagi masalah-masalah sepele. Kali ini bisa saja menyangkut perut anak-bini sendiri maupun anak-bini orang lain.

Membangun semangat tim itu tidak mudah, apalagi jika membangun semangat diri sendiri saja tak mampu. Ya, jujur saja, saya tidak terlalu tertarik berkarir di jalur ini. Ada keraguan di hati tentang halal dan haramnya bisnis yang digeluti oleh perusahaan tempat saya mengais pundi-pundi rupiah ini.

Apakah saya bisa menaklukkannya? Who knows. Tulisan ini insyallah akan saya update seiring perkembangan waktu, agar menjadi catatan hidup yang menarik dibaca di usia senja nanti. Semoga saya ga males nulis.


Pergolakan bathin

Di satu sisi saya sangat ingin bertahan, menaklukkan semua rintangan yang menghadang, belajar menjadi pimpinan yang baik dan bisa diandalkan. Saya yakin saya bisa. Tapi permasalahannya, saya tidak menikmati ini semua. Bathin saya sudah terlalu lama menolak untuk bekerja pada bisnis yang dilarang agama saya ini. Meskipun saya bukanlah seorang muslim yang taat, tetap saja hal ini mengganggu saya.



Berkali-kali ketidaknyamanan tersebut membuat saya berpaling. Tes sana-sini untuk mendapatkan pekerjaan lain yang bisa menggantikan pekerjaan saat ini. Tapi hasilnya? Nihil. Entah itu gagal karena kurang persiapan, maupun gagal karena tidak sempat mengikuti tes selanjutnya, selalu ada saja penghalang untuk berpindah ke tempat lain yang lebih bisa mendamaikan hati, menenangkan jiwa.

Dulu sih enak-enak saja. Izin tes kesana kemari juga ngga masalah, toh ada kolega yang siap mem-back up ketika kita butuh bantuan. Sekarang? Ga perlu izin lagi sih, saya punya banyak kesempatan untuk meninggalkan kantor tanpa dikepoin oleh siapapun. Masalahnya, beberapa akses dan wewenang tertentu hanya dipegang oleh saya sendiri, sehingga ketidakhadiran saya dalam ruang kerja bisa saja menghambat jalannya rangkaian pekerjaan keseluruhan tim. I'm alone, in this position.

Sebenernya bisa aja, kalau mau ngakalin. Saya bisa share ID & password yang saya miliki, saya bisa percayakan kendali ke tangan kanan saya di kantor, atau saya bisa kontrol via telpon dan chat bila diperlukan. Tapi apakah seperti itu pimpinan yang baik? Menurut saya tidak. Menjadi pemimpin bukan hanya soal kecerdasan intelektual, integritas memegang peranan penting disini. Ada amanah yang suatu saat nanti akan dipertanggungjawabkan, entah di dunia ataupun di akhirat. Ceilee..

Hidup: tentang pilihan dan keputusan (update)

Inilah keputusan yang saya ambil, entah itu benar atau salah. Yang penting saya bahagia. Inilah tindakan yang saya rasa jantan. Menyerahkan jabatan ini ke orang yang bisa bertanggungjawab penuh dan fokus pada kinerjanya di perusahaan ini, bukan seperti saya yang selalu sibuk hilir mudik mencari pekerjaan pengganti.

Resign? Ya. Itulah keputusan berat yang pada akhirnya saya ambil. Walaupun masa depan karir saya sepertinya terlihat cukup terang di perusahaan ini, saya rasa sudah cukup dulu pembelajaran hidupnya disini. Paling tidak, saya keluar dengan kondisi yang lumayan baik. Target tercapai, dari sisi OD rate tembus level 2, Roll-down Alpha pun mampu ditekan hingga ke level terbaik dalam 12 bulan terakhir. Meskipun jualan jeblok, tapi ya alhamdulillah lah, hahhaha.


Meskipun baru memimpin cabang Pekanbaru Electronic dalam periode yang terbilang singkat, bagi saya jelas terasa bahwa saya tidak mencintai pekerjaan ini. Maka dari itu, saya putuskan bahwa closing Agustus ini adalah closing terakhir saya di perusahaan tercinta ini. Efektif per tanggal 5 September, saya tidak akan lagi berstatus sebagai karyawan Mega Finance.

Rencananya sih pembahasan mendetail tentang hal-hal yang membuat saya memutuskan untuk hengkang akan saya ulas lagi di satu artikel khusus. Rencananya sih gitu, semoga tidak hanya tinggal rencana. Hihihi.

Apapun dampak keputusan ini di kemudian hari, harus saya hadapi. Mulai dari cemooh orang-orang yang menganggap saya ga tahan banting, hujatan orang-orang yang merasa tindakan saya bodoh karena telah membuang karir yang sudah di depan mata, dan blablabla lain yang mungkin sebaiknya tak pernah sampai ke telinga saya. Hihihi.

Siapapun yang membaca tulisan ini. Doakan semuanya berjalan lancar ya. Semoga niat saya untuk berhijrah mencari rezeki yang lebih halal dapat dilancarkan oleh yang maha kuasa.




Read More

Monday, June 20, 2016

Catatan Hidup #2 Cari kerja


Dalam postingan yang satu ini rencananya saya akan mengupdate kisah perjalanan saya dalam berburu pekerjaan. Dari lubuk hati yang paling dalam saya berharap bahwa postingan ini tidak akan menjadi sebuah catatan yang panjang terurai. Semoga status pengangguran tidak melekat terlalu lama pada diri ini. Hihihi. Amin.

Jadiii... kira-kira perusahaan manakah yang mendapat kehormatan untuk menjadi perusahaan pertama yang saya lamar?


My first try

Perusahaan tersebut adalah BTN, saya lamar tepat tujuh hari setelah saya resmi bergelar Sarjana Ekonomi, sekitar satu bulan sebelum acara wisuda. Ironis sekali memang, mengingat sedari dulu saya sudah mewanti-wanti diri saya untuk tidak bekerja di perusahaan perbankan. Menurut saya, pekerjaannya terlalu menguras tenaga dan pikiran. Mungkin gajinya lumayan, tapi kelihatannya tidak sebanding dengan rasa penat dan stress yang ditimbulkan. Kelihatannya lho ya, mungkin saja saya salah. No offense!

Singkat cerita, tanpa pikir panjang saya langkahkan kaki menuju salah satu cabang BTN tepatnya di Jl Rasuna Said Padang. Sungguh tanpa keraguan. Prinsip ‘jangan kerja di bank’ yang dulu saya pegang tetiba lenyap, hilang entah kemana. Yang ada di pikiran saya hanyalah bagaimana caranya agar gelar sarjana yang saya peroleh tidak terlalu lama menunggu untuk dipergunakan.

Posisi ODP BTN yang saya lamar dengan modal SKL itu meregang nyawa dengan cepat. Perusahaan yang malang ini rupanya belum cukup beruntung untuk mendapatkan kandidat se-brilian saya. Mereka menyisihkan saya di tahap seleksi administrasi. Kejam sekali.

Tapi mungkin salah satu peristiwa yang akan selalu saya ingat dalam kisah melamar BTN ini adalah hal lucu yang menimpa surat lamaran kerja saya. Maklumlah, pada saat itu saya masih minim pengalaman dan terdesak waktu yang singkat untuk melamar lowongan tersebut. Kurang dari satu hari waktu yang bisa saya gunakan untuk mempersiapkan segala persyaratan, ditambah dengan kecerobohan saya yang cukup membanggakan: terjadilah fenomena ‘lupa edit data diri’.

Kekonyolan yang luar biasa absurd terjadi. Pada kolom data diri di lembar surat lamaran kerja saya terpampang: Jakarta, 5 Desember 1992 sebagai tempat dan tanggal lahir saya. Yap. Itu bukan tanggal lahir saya, melainkan tanggal lahir si pemilik asli dari surat lamaran yang saya kopas. Di ruang tunggu BTN, saya hanya bisa termangu menatap lembaran tersebut karena menyadari sudah tidak ada lagi waktu untuk ngeprint ulang.

Seingat saya, tidak ada lagi pekerjaan yang saya lamar hingga hari-H wisuda.


Hiruk pikuk mengurus ijazah dan transkrip saya lakukan setelah melakukan perburuan gerhana matahari ke Palembang. Sembari mengurus dokumen sakral tersebut saya juga memasukkan lamaran kerja ke instansi-instansi pemerintahan/BUMN diantaranya Pegadaian, OJK, dan BPJS Ketenagakerjaan.

Posisi yang ditawarkan oleh Pegadaian terbilang kurang menarik. Jadi saya tidak terlalu kecewa ketika instansi tersebut tidak mengeluarkan daftar kandidat yang lulus dari kota Padang. WTF? Buat apa dibuka lowongan buat kota Padang kalau ujung-ujungnya digagalkan semua? I don’t know what is exactly happened here, saya anggap saja kalau sayalah yang gagal menemukan lembar pengumuman kandidat Padang diantara pdf-pdf kelulusan kota-kota lain. No problemo lah, ikhlaskan saja. Nah yang membuat saya sedikit kecewa tentu saja si gagah perkasa: OJK.

OJK adalah salah satu tempat berkarir yang favorit, mungkin bukan cuma bagi saya. Prestisenya itu looh.. luar biasa! Katanya sih hanya orang-orang yang benar-benar berbakat yang bisa bekerja disana. Apakah saya termasuk? Of course... not! Huehue.

Tapi tentu saja sebagai seorang pemuda rupawan yang memiliki kapasitas intelegensi yang mumpuni, saya sangat ingin menguji kemampuan saya paling tidak di tahap psikotes/tes potensi akademiknya. Ngga berharap lebih dari itu juga kok. Sayangnya takdir berkata lain, bahkan saya tak diberi kesempatan untuk mewujudkan mimpi tersebut. Goddamit! Ini perusahaan ketiga yang menggagalkan saya pada seleksi administrasi. Kali ini, rasanya sedikit kecewa.

 

Pertama kalinya lulus tes administrasi

Sehari setelah OJK mengumumkan kegagalan saya, tepatnya pada tanggal 2 April Bank Mandiri mengundang saya untuk melaksanakan online assesment. Wuhuuu! Akhirnya ada juga perusahaan yang meloloskan saya dari tahap seleksi administrasi. Secara resmi, inilah tes pertama yang saya ikuti. 

Bermodal laptop dan koneksi internet, ujian tersebut saya kerjakan dengan sepenuh hati di sebuah kamar kecil nan panas yang saya tempati sehari-hari. Entah memang soalnya sulit, atau karena suhu kamar yang tinggi, otak saya rasanya mulai mengalami overheating

Tanpa disangka-tanpa diduga, saya berhasil melewati online assesment tersebut dan diundang untung mengikuti final interview pada tanggal 17 Juni 2016.

Yap, butuh dua bulan untuk menunggu hasil tes ODP Mandiri tersebut. Hanya 1 dari 6 orang peserta pada shift yang saya ikuti berhasil lolos dari final interview tersebut, dan sialnya saya bukanlah 1 orang tersebut. Hihihi.

Nah, pada jeda menunggu pengumuman online assesment Mandiri tentu saja saya juga sempat melamar ke perusahaan-perusahaan lain. BPJS-TK adalah salah satunya. Saya melakukan pendaftaran pada tanggal 9 April. Menunggu dan menunggu setelah mengalami pengunduran lebih dari satu kali, akhirnya BPJS menerbitkan pengumuman hasil seleksinya pada tanggal 26 April. Hasilnya? Lagi-lagi saya gagal di administrasi. Luar biasa.

 Ada juga beberapa lamaran yang saya masukkan di sebuah jobfair di UPI-YPTK Padang. Seingat saya diantaranya ada BNI Life, Indomobil, CIMB Niaga, Garuda Organizer, dan... rasanya cuma itu sih, udah lupa. Perusahaan-perusahaan yang saya lamar pada jobfair tersebut sama sekali tidak ada yang memberi kabar, entah memang mereka cuma iseng buka lowongan atau memang saya yang lagi-lagi tidak lolos tahap administrasi. Huehue.


Tes tertulis pertamaku

Pengalaman pertama mengikuti tes tertulis 'in real life' (bukan online test) datang dari salah satu perusahaan pembiayaan bernama BFI Finance. Yuhuu... campus hiring, sama seperti BAF yang sudah saya tolak sebelumnya karena sedang dalam perburuan gerhana matahari. 

Kalender menunjukkan tanggal 14 April pada saat itu. Tentu saja saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang tersedia. Meskipun saya tidak tertarik untuk bekerja di perusahaan ini, tentu saja berbagai macam tes yang tersedia harus saya ikuti untuk menambah pengalaman tes saya yang masih minim. Alhamdulillah tahap awal berhasil saya lewati dan menyisakan 20 pesaing untuk tahapan selanjutnya yaitu Focus Group Discussion

Dari 20 orang yang lulus ke tahap FGD, tidak semuanya berminat untuk mengikuti tes tersebut. Tentu saja hal ini sedikit mengecewakan bagi saya karena ternyata terlalu sedikit yang memutuskan untuk bertarung, seingat saya pada saat itu peserta tes yang datang tidak mencapai 15 orang. Bagaimanapun, saya tetap bertekad untuk maju dan mengalahkan mereka yang datang. Veni, vidi, vici.

Berhasil! Inilah pengalaman pertama saya lulus hingga ke tahap paling akhir. Setelah berdiskusi cukup matang bersama keluarga dan teman-teman dekat, saya putuskan untuk tidak menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan tersebut karena satu dan lain hal. Yap, peluang pertama yang saya lewatkan.

Yuk lanjutkan perburuan!

Panggilan tes berikutnya masih dari campus hiring Universitas Andalas, dan kali ini perusahaan yang berpartisipasi adalah CIMB Niaga. Luar biasa! Lamaran yang saya masukkan di jobfair UPI tidak digubris dan perusahaan ini malah mengadakan campus hiring di Universitas saya sendiri. Ruangan tes yang dipakai masih sama dengan ruangan yang dipakai BFI yaitu ruang seminar gedung F. Agak sedikit bergairah kali ini, karena pesertanya sekitar 2-3 kali lebih banyak daripada tes sebelumnya. 

Meskipun pesertanya lebih banyak, ternyata soal tes yang diuji tidak lebih sulit. Sejauh ini, soal psikotes perusahaan inilah yang menurut saya paling mudah untuk dikerjakan. Sempat pesimis juga sih, karena beranggapan semua orang juga merasakan kemudahan yang saya rasakan. Syukurnya, firasat tersebut salah dan siang hari itu juga saya melanjutkan tes ke tahapan berikutnya yaitu FGD. Di tahap inilah perjalanan saya berakhir. Tidak ada kabar sejak saat itu, dan anehnya teman-teman seperjuangan saya juga mengalami hal yang sama.
 
April berlalu dan Mei pun sudah mendekati ujungnya. Pada tanggal 23 Mei saya mengikuti walk in interview yang diselenggarakan oleh PT Mega Finance. Lagi-lagi ruang seminar gedung F menjadi saksi perburuan saya. Kali ini peserta yang datang sudah jauh lebih banyak dari sebelumnya, sekitar 265 orang. Mungkin nama besar CT Corp besutan Chairul Tanjung ini lebih menggugah selera para job seeker Universitas Andalas dibanding perusahaan-perusahaan sebelumnya.

Cukup kaget awalnya, karena tahapan pertama dari seleksi  yang dilakukan oleh pihak Mega Finance sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Jujur, menurut saya tahap ini dilakukan dengan tidak profesional. Satu orang interviewer mewawancarai 8-15 orang pelamar. Hmm... menurut saya 3-5 orang masih bisa dimaklumi, tapi 8 orang? 15 orang? 

Masing-masing kandidat hanya diberi kesempatan memperkenalkan diri dan menyebutkan latar belakang pendidikannya, mungkin hanya dua atau tiga kalimat yang bisa kami sampaikan sebelum pertanyaan digilir kepada kandidat yang lain.

Alasannya sih karena waktu yang tersedia tidak sebanding dengan banyaknya peserta tes yang datang. Yasudahlah, anggap saja alasan tersebut bisa ditoleransi. Kabar bahagianya, dari proses seleksi tahap awal yang kurang memuaskan tersebut, saya dinyatakan lolos ke tahap FGD.

Seperti biasa, saya bukan individu yang mencolok dalam tes-tes berbau diskusi grup seperti ini. Saya hanya menyampaikan sepatah dua patah kata, tanpa ada hasrat untuk membantah atau beradu argumen dengan kelompok-kelompok lain. Saya sibuk menonton masing-masing kandidat menunjukkan kebolehannya masing-masing dalam berbicara dan berdebat. Tak ada keinginan untuk menimpali atau tampak lebih unggul.

Ternyata sedikit bicara bukan berarti tidak bermakna. FGD telah menyisihkan lebih banyak lagi kandidat, dan saya masih berada pada posisi aman. Saya berhasil melanjutkan proses seleksi ke tahap wawancara. Nah, di tahap ini saya mulai bingung. Wawancara apa? Bukankah ada tahapan psikotes terlebih dahulu seharusnya?

Pertanyaan saya terjawab pada saat interviewer kami (yang ternyata adalah Regional Manager dari PT Mega Finance) menanyakan perihal psikotes pada penanggungjawab rekrutmen Padang. Jawabannya cukup menggelikan, peserta tes yang datang ternyata melebihi prediksi sehingga kertas untuk psikotes tidak memadai. Haduh! Lagi-lagi alasan yang mengecewakan.

Syukuri saja, mungkin keteledoran dan kekeliruan itulah yang membuat saya masih terus mendapat kabar baik hingga ke penghujung penyisihan. Alhamdulillah, saya diundang untuk mengikuti medical checkup pada tanggal 13 Juni 2016 yang menandakan bahwa saya dinyatakan layak untuk berkarir bersama Mega Finance. Saya sudah bosan menganggur, bulatkan tekad dan dengan mengucap bismillah, inilah dia perusahaan beruntung yang berhasil mendapatkan saya: MEGA FINANCE!


Akhirnya kerja

Dunia kerja saya awali dengan menjadi peserta Officer Development Program PT Mega Finance angkatan IX batch 6, yang beranggotakan 15 orang pemuda-pemudi terbaik dari Padang dan Yogyakarta. Total kandidat yang mengikuti seleksi di dua kota tersebut mencapai 500 orang, syukurlah saya termasuk dalam 15 orang yang diangkut untuk bekerja disini.


Cerita suka dan duka saya dalam meniti karir sebagai anak ODP Mega Finance mulai dari tanggal 26 Juli 2016 insyaallah akan saya liput dalam postingan khusus. Postingan yang ini khusus buat pengalaman nyari kerja aja ya. Wkwkwk. 
Baca juga: Catatan Hidup #4 Seleksi ODP Mega Finance
Lanjut! Kurang dari dua bulan setelah saya mulai bekerja di Mega Finance, Bank Indonesia dan Peruri buka lowongan lho. Dua-duanya menggunakan jasa PPM Management dalam proses recruitment. 

Tentu saja tanpa pikir panjang saya langsung daftar pada tanggal 11 September 2016. Tak perlu menunggu lama, pada tanggal 21 September BI mengumumkan bahwa saya dinyatakan gagal melewati seleksi administrasi, dan keesokan harinya datang berita yang sama dari Peruri. Apa yang salah dengan file administrasi saya ya? Wkwkwk.

bersambung...
Read More